Maaf, Hanya Iseng Menulis
Alhamdulillah...
3 tahun sudah saya sekolah di SMA. Dan Hari ini adalah hari
yang mendebarkan. Setidaknya satu hari penuh dengan perasaan yang berdebar-debar. Hari ini
tepat hari-h SBMPTN. Lebih tepatnya lagi 12 jam setelah ujian TKD dimulai kalau sekarang jam 21:45. Meskipun tadi saya sedikit terlambat karena satu hal yang lebih penting yang tak perlu saya sebutkan karena akan mengurangi nilai kesucian-Nya.
Ya,
tes SBMPTN atau biasanya disingkat SBM sudah lewat, tapi rasa khawatir di dada
belum juga minggat. Selama Allah belum memberitahu hasil SBMPTN, selama itulah
saya masih khawatir. Saya bingung sama teman saya, Sabilla. Dia bilang semua
beban dan di pundaknya hilang setelah melewati tes hari ini. Pertanyaannya
adalah bagaimana dia bisa tenang setelah melewati tes tetapi belum mengetahui hasil tes tersebut?
(Lanjutannya ada pada beberapa paragraf di bawah)
SBMPTN...
Kalau saya boleh merangkai puisi, ingin rasanya memuji-muji
SBMPTN yang baru saja lewat. Namun apadaya, segala puji-pujian hanya milik
Allah semata. Lagipula kalaupun ada yang harus dipuji maka Kemendikbud lah yang
paling layak mendapatkannya. Mengapa? Bagi saya, SBMPTN memberikan pelajaran
luar biasa.
Setiap orang punya tujuan hidupnya masing-masing bukan? Apa tujuan
hidup anda? Sukses? Sukses hanyalah representasi dari kebahagiaan yang anda
rasakan. Namun apakah kesuksesan itu membawa manfaat bagi seluruh umat manusia?
Bagi agama anda? Atau setidaknya bagi orang-orang di sekitar anda? Jangan mudah
terpelatuk seperti itu, kawan. Setiap kesuksesan pasti membawa manfaatnya
tersendiri. Minimal kepada diri kita sendiri lah.
Seperti hendak pergi menuju suatu tempat. Kita pergi
menggunakan lokomotif. Kita menunggu kereta kita di stasiun. Perbekalan apakah
yang kita bawa? Apakah makanan kita mencukupi selama di perjalanan? Apakah kita
tidak akan kehabisan uang nantinya? Dan yang paling menentukan adalah, apakah
tiket keretanya sudah ada di tangan kita? Karena kereta itulah yang akan
membawa kita menuju tujuan kita. Sukses.
Nah...
SBMPTN pun sama. Dia seperti kereta yang kita tunggu-tunggu.
Tak sedikit penumpang yang telah mempersiapkan dirinya masing-masing untuk dapat
naik kereta dan bertahan selama di perjalanan. Dan tak sedikit pula yang belum mempersiapkan
diri mereka untuk naik gerbong itu. Alhasil mereka tak dapat naik dan sampai ke
tujuannya. Mengapa kita perlu bekal selama di perjalanan padahal syarat utama kita
dapat diizinkan masuk gerbong hanyalah tiket dengan nomor kursi tertentu saja
agar kita dapat duduk di kereta dengan tenang? Pastinya mereka yang tidak
memiliki tiket akan diusir dari gerbong bukan? Ya, tepat sekali. Karena kita tak hanya ingin naik kereta dan melambaikan tangan ke jendela sambil menikmati pemandangan yang sangat luas. Kita punya tujuan. Itulah SUKSES.
Lalu apabila saya melihat SBMPTN sebagai gerbong lokomotif yang kami (para pejuang SBMPTN) tunggu-tunggu, maka
tiketnya adalah hasil belajar selama kami hidup ditambah dengan niat dan tekad kuat kami. Apabila niat dan tekad kami kendor, bisa jadi tiket yang kami beli adalah palsu. Meskipun kecil
kemungkinannya... tapi HEYY, selama ada kemungkinan tak ada yang tak mungkin. Lalu
bagaimana dengan perbekalan yang kami bawa? Saya lebih suka menyebutnya dengan MOTIVASI.
Selesai sudah tulisan singkat saya, kekurangannya akan dilebihkan pada tulisan selanjutnya. Meskipun begitu, saya masih ingin membahas Sabilla teman saya yang tadi. Kira-kira apa yang membuat anda tenang ketika perasaan anda digantungkan oleh sesuatu yang anda sendiri tidak paham bagaimana sesuatu tersebut menilai anda? Ini adalah “Perasaan yang Digantung”.
Bila anda paham maksud saya mungkin anda adalah orang yang
pernah merasa cinta anda digantung seseorang yang anda sendiri tidak tahu
apakah dia juga mencintai anda atau tidak..
Baiklah, lalu apa yang harus kita lakukan apabila terjadi “insiden”
semacam itu? Setahu saya, secara religius saya pasti berdoa. Lalu saya berdoa,
lalu saya berdoa. Apakah ini menghilangkan rasa yang digantung ini? Tentu belum. Mengherankan bukan?
(Bersambung. Tulisan selanjutnya akan membahas mengapa hal di atas dapat terjadi)
(Bersambung. Tulisan selanjutnya akan membahas mengapa hal di atas dapat terjadi)
(lanjut besok ah, udah malam)
Comments
Post a Comment